Ruhania Tour & Travel

Pentingnya Menata Niat Sebelum Take-Off

Ustadz Hidayat Rohim memberikan arahan penting tentang menjaga adab dan meluruskan niat di Bandara Soetta.

Bandara Soekarno-Hatta – Jamaah berdiri tenang membentuk lingkaran kecil, menyimak suara lembut namun tegas dari Ustadz H. Hidayat Rohim.

Beliau tidak sedang membagikan tiket atau paspor—itu urusan teknis yang sudah beres oleh tim lapangan. Namun beliau sedang “membekali” hati para jamaah di momen terakhir sebelum pesawat take-off.

Status Kita: Duyufulullah (Tamu Allah)
Dalam briefing singkat ini, Ustadz Hidayat tidak membahas hal teknis seperti “Nanti koper taruh mana” atau “Jam berapa makan”. Itu tugas tim lapangan.

Ustadz Hidayat langsung menyentuh inti dari perjalanan ruhani ini. Beliau menyapa jamaah dengan sebutan yang menggetarkan hati: “Duyufulullah.. Duyufurrahman…” (Tamu-tamu Allah, Tamu-tamu Dzat Yang Maha Pengasih).

“Kata Rasulullah, ada dua nikmat yang sering dilupakan manusia. Nikmat sehat dan nikmat waktu luang,” ujar Ustadz Hidayat membuka nasihatnya.

Beliau mengingatkan bahwa keberadaan jamaah di bandara hari itu adalah karunia langka. 

“Banyak orang punya uang, tapi badannya nggak sehat jadi nggak bisa berangkat. Ada yang sehat, uangnya ada, tapi waktunya nggak sempat,” kata beliau.

Momen hangat pelepasan jamaah, membangun ikatan kekeluargaan sebelum menempuh perjalanan suci.

Jebakan “Wisata Rohani”

Satu hal yang Ustadz Hidayat wanti-wanti banget adalah soal Niat. Berkali-kali beliau selalu menyampaikan “Luruskan Niat.. Luruskan Niat..”

Beliau paham betul, godaan zaman sekarang itu berat. Niat ibadah bisa belok sedikit jadi niat “ngonten”, niat belanja, atau sekedar jalan-jalan.

“Saya pesankan betul, luruskan niat Lillahi Ta’ala. Jangan sampai di sana kita tergoda hal lain, akhirnya ruhiah-nya (nilai spiritualnya) berkurang,” nasihat Ustadz.

Beliau tidak melarang foto-foto atau belanja oleh-oleh. Tapi beliau mengingatkan prioritas. Jangan sampai jauh-jauh terbang ribuan kilometer, capek-capek perjalanan, tapi pulang cuma bawa foto di galeri HP, sementara hatinya kosong.

Tujuan utama kita ke sana itu satu: Tazkiyatun Nufus (membersihkan jiwa). Pulang dari sana, hati harus lebih bersih, akhlak harus lebih baik.

Suasana khusyuk jamaah saat mengaminkan doa, memohon kelancaran ibadah sebelum pesawat lepas landas.

Bukan Sekadar Travel, Tapi Pembimbing

Melihat cara Ustadz Hidayat membimbing, rasanya Ruhania ini bukan sekadar Travel Agent yang mengurus logistik. Tapi lebih mirip “Madrasah Berjalan”.

Ustadz hadir bukan cuma sebagai CEO yang memastikan hotelnya bagus, tapi sebagai Guru yang menjaga agar ibadah kita nggak melenceng. Beliau memastikan “Adab Safar” (etika perjalanan) kita terjaga sejak dari Jakarta.

Begitu briefing ditutup dengan doa, terlihat wajah-wajah jamaah jauh lebih tenang. Koper sudah siap, paspor sudah di tangan, dan yang paling penting: hati sudah “disetel” lurus menghadap Allah.

Selamat jalan, Tamu-Tamu Allah. Semoga selamat sampai tujuan dan pulang membawa predikat Mabrur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *